Minggu, 13 Mei 2012

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI INDONESIA


PENDAHULUAN
Peradaban islam ada sejak zaman Rasullah SAW. Sampai kepada abad ke 12 M. Telah berhasil  membangun beradaban-peradaban baru di dunia islam. Peradaban islam di masa lampau belumlah banyak mengarugi lautan, hal ini dikarenakan taraf kemampuan manusia pada saat itu belum mampu berpikir bagaimana membuat alat yang dapat dipakai mengarungi lautan. Namun setelah manusia mampu menciptakan alat untuk mengarung lautan peradaban manusia  pun berkembang  dan  semakin maju.         
Begitupula dengan peradaban yang ada di indonesia sejak lama sampai sekarang mengalami perubahan yang besar. Perubahan  manusia semakain maju dengan demikian terjadilah hubungan antar wilayah bahkan antar negara, merekapun mengadakan hubungan persahabatan dan kerja sama dan perdagangan untuk saling membantu  dalam berbagai keperluan hidup ini. Indonesia yang dikenal sebagai sebagai penghasil rempah-rempah dan bumi indonesia sangat subur sehinggga mengundang para pedagang  dari berbagai negara untuk datang ke indonesia melakukan kerjasama, dalam hal ini terjadilah proses penyebaran agama islam di indonesia.
Masuknya islam di indonesia dibah oleh para saudagar baik yang dari mekkah india maupun persia. Dengan demikian kehidupan indonesia atau agama islam yang ada di indonesia mempunyai kemiripan dengan agama islam yang ada di mekkah maupun india baik dari corak kebudayaan maupun mazhab yang berkembang di indonesia. Disamping itu bangsa indonesia juga dilatar belakangi oleh  politik dan ekonomi  sriwijaya  yang mengalami kemunduran. Dengan kemunduran sriwijaya dimanfaatkan pula oleh para pedagang  muslim untuk mendapatkan keuntungan politik dan perdagangannya.

PEMBAHASAN
A.    TEORI KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA
Ada tiga teori yang membicarakan tentang datangnya islam di indonesia. Ketiga teori ini memberikan jawaban atas permasalahan tentang masuknya Islam ke Nusantara.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan teori di atas disini akan dibahas secara sederhana sebagi berikut.
a.       Teori Gujarat
Teori ini dinamakan teori Gujarat bertolak dari pandangan teori yang mengatakan asal Negara yang membawa Agama Islam ke Nusantara adalah dari Gujarat. Adapun pelatak teori ini adalah Snouk Hurgronje lebih menitik beratkan pandangannya ke Gujarat berdasarkan: pertama, kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa arab dalam penyebaran agama islam ke nusantara. Kedua, hubungan dagang Indonesia-India telah lama terjalin. Ketiga, inskripsi tertua  tentang Islam yang terdapat di sumatra memberikan gambaran hubungan antara sumatra dan Gujarat.
Sejalan dengan pendapat di atas ini, W.F. Stutterheim, mengatakan masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-13. Pendapatnya juga didasarkan pada bukti batu nisan sultan pertama dari kerajaan samudra, yakni Malik Al-Shaleh yang wafat pada 1297. Selanjutnya ditambahkan tentang asal Negara yang mempengaruhi masuknya Agama Islam ke Nusantara adalah Gujarat. Dengan alasan Islam disebarkan melalui jalan dagang antar Indonesia-cambay (Gujarat) Timur Tenggah-Eropa.
Perkembangan perkampungan Arab mulai berkembang hal ini mempengaruhi pula perkembangan Arab yang terdapat di sepanjang jalan perdangangan di Asia Tenggara. Dari keteranga J.C. Van ini masuknya islam ke Nusantara tidak terjadi pada abad ke-13 melainkan telah terjadi pada abad ke-7. Sedangkan abad ke-13 merupakan saat perkembangan Islam.[1]
Peranan Gujarat sebagai pusat perdagangan Internasional, terutama sejak 1294 sebagai penyebaran Islam, telah mendapat perhatian dari Schrieke dalam Indonesia Sosiological studies. Ia menjelaskan berdasarkan keterangan laporan Marco Polo, karena Marco Polo tidak berkunjung ke Gujarat. Tetapi mempertimbangkan hasil laporan sanudo. Selanjutnya Schrieke memberikan gambaran tentang saling ketergantungan antara malaka dengan cambay dan sebaliknya. Schrieke mengambarkan tentang peranan Gujarat sebagai pusat perdagangan yang mempunyai kaitan yang erat antara Indonesia dan India.
b.      Teori Makkah
Dalam teori ini Hamka lebih mendasarkan pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa Agama Islam ke Indonesia. Gujarat dinyatakan sebagai  tempat singgah semata, dan makkah sebagi pusat, atau Mesir sebagai pengambilan ajaran Islam. Ia menambahkan pengamatan pada masalah manzhab Syafi’i, sebagai mazhab yang istimewa di Makkah dan mempunyai pengaruh yang besar di Indonesia. Tetapi titik analsisnya pada permasalahan perdagangan yang dibaca adalah barang yang didagang  dan jalan perdagangannya. Sebaliknya penglihatan penelitian hamka lebih tajam sampai permasalahan mazhab yang menjadi bagian laporan kunjungan Ibnu Battutah ke Nusantara.
Guna dapat mengetahui lebih lanjut mengenai pendapat waktu masuknya Islam di Nusantara pada abad ke-7, perlu penjelasan tentang peranan bangsa Arab dalam perdagangan di Asia  yang dimulai sejak abad ke-2 SM. Peranan ini tidak dibicarakan oleh penganut teori Gujarat. Tinjauan tentang teori Gujarat mengharuskan peranan bangsa Arab dalam perdagangan dan kekuasaan di lautan, yang telah lama mengenal samudera Indonesia daripada bangsa-bangsa lainnya.
Informasi sejarah menjelaskan bahwa bangsa Arab telah sampai ke Ceylon pada abad ke-2 SM. Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke Indonesia. Tetapi bila kita hubungkan dengan penjelasan kepustakaan Arab Kuno yang menyebutkan Al-Hind yang berarti India dan pulau-pulau yang sebelah timurnya sampai ke Cina, dan Indonesia pun disebut sebagai pulau-pulau Cina, besar kemungkinan pada abad ke-2 SM bangsa Arab telah sampai ke Indonesia hanya penyebutnya sebagia pulau-pulau Cina atau Al-Hind.[2]
Bila memang telah ada antara hubungan bangsa Arab dengan Indonesia sejak abad ke-2 SM, Maka bangsa Arab merupakan bangsa Asing yang pertama datang ke nusantara. Berdasarkan keterangan yang dikemukakan oleh D.H. Burger dan Prajudi Atmosudirdjo, bangsa dan Cina baru mengadakan hubungan dengan Indonesia pada abad ke-1 M. Sedangkan hubungan Arab dan Cina terjadi jauh lebih lama, melalui jalan darat menggunakan kapal sahara jalan darat ini sering disebut sebagai jalan sutera, berlangsung sejak 500 SM.
Timbulnya perkampungan Arab baik dipantai barat Sumatra ataupun di Asia Tenggara dan kanton, di tunjang oleh kekuatan laut Arab. Fakta ini memberikan bukti telah terjadi hubungan Indonesia Arab jauh sebelum abad ke-13.[3] Apakah target pengaruh informasi yang bersifat Hindu sentris terhadap kalangan intelektual Indonesia yang berpendidikan belanda, menampakkan kecintaan terhadap sejarah pra-Islam Indonesia.
Masuknya Agama Islam ke Nusantara terjadi pada abad pertama hijriah atau abad ke-7 M. Pelaku bembawa Agama Islam adalah Saudagar Arab, diikuti oleh Persia dan Gujarat, mereka bukanlah anggota misi, meski pada hakekatnya setiap orang islam mempunyai kewjiban misi.

c.       Teori Persia
Fokus teori ini menjelaskan tentang masuknya Islam ke nusantara berbeda dengan teori gujarat dan teori makkah, sekalipun mempunyai persamaan tentang gujaratnya, serta mazhab Syafi’i-nya. Teori persia lebih menjelaskan tentang kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan mempunyai kesamaan dengan persia. Dan adapun kesamaan tentang budaya kita dapat melihat antara lain.
1.      Peringatan hari muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syiah atas kematian syahidnya husain.
2.      Adanya kesamaan ajaran antara ajaran Syaikh siti Jenar dengan ajaran sufi iran Al-Hallaj.
3.      Nisan pada makam malikus saleh dan makam malik ibrahim di gersik di pesan dari gujarat. Dalam hal ini teori persia mempunyai kesamaan mutlak dengan teori gujarat. Tetapi berbeda dengan pandangan G.E Morrison.
4.      Pengakuan umat islam di indonesia terhadap mazhab Syafi’i sebagai mazhab yang paling utama.
Menjawab teori Persia diatas, K.H. saifuddin Zuhri sebagai salah seorang peserta seminar(1963), menyatakan sukar untuk mendapat tentang kedatangan Islam ke Nusantara berasal dari Persia. Alasan yang dikemukakan oleh K.H. Saifuddin Zuhri, bila kita berpedoman kepada masuknya Agama Islam ke Nusantara pada abad ke-7, hal ini terjadi pada masa kekuasaan Khalifah Ummayah. Saat itu kepemimpinan Islam di bidang Politik, Ekonomi dan Kebudayaan berada di tangan Bangsa Arab, sedangkan pusat pergerakan Islam berkisar di Makkah, Madinah, Damaskus, dan Bagdad, jadi belum mungkin Persia menduduki kepemimpinan Dunia Islam.
Dari uraian di atas dapat kita lihat perbedaan dan persamaan ketiga teori Gujarat, Makkah, dan persia sebagai berikut:
Antara teori Gujarat dan Persia terdapat kesamaan pandangan mengenai masuknya Agama Islam ke Nusantara yang berasal Gujarat.  Perbedaannya terletak pada teori Gujarat yang melihat ajaran Islam mempunyai kesamaan dengan ajaran Mistik India, sedangakan teori Persia memandang adanya kesamaan antara sufi di Indonesia dengan Persia, dan menjadi tempat singgah ajaran Syi’ah ke Indonesia.
Dalam hal memandang Gujarat sebagai tempat singgah bukan pusat, sependapat dengan teori Makkah. Tetapi teori MAKKAH memandang Gujarat sebagai tempat singgah perjalanan laut antara Indonesia dengan timur Tenggah, sedangkan ajaran Islam di ambilnya dari Makkah atau Mesir.
Teori Gujarat tidak melihat adanya peran Arab dalam perdagangan, ataupun dalam penyebaran Agama Islam di Indonesia. Teori ini lebih melihat peranan pedagang India yang beragama Islam daripada bangsa Arab yang membawa ajaran asli. Oleh karena itu, bertolak dari inskripsi tertua dan laporan perjalanan Marko Polo ditetapkan daerah Islam yang pertama di Nusantara adalah Samudra Pasai, dan waktunya pada abad ke- 13. Sebaliknya teori Mekkah, tidak dapat menerima pada abad ke -13 sebagai saat masuknya karena dianggap saat- saat perkembangan Islam di Nusantara, dan saat itulah berdiri kekuasaan Islam. Sedangkan masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke- 7, 200 tahun sebelum dibangunnya candi Budha Borobudur dan 500 tahun sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Dasar penentuan waktunya bertolak dari berita Dinasti Tang.
Sekalipun teori Persia  juga membicarakan masalah pengaruh Mazhab Imam Syafi’i di Indonesia tetapi juga dijadikan sebagai argumen besarnya pengaruh India atas Indonesia. Pandangan teori Persia dalam melihat mazhab Syafi’i merupakan pengaruh mazhab Syafi’i yang berkembang kuat di Malabar. Dari Malabar inilah mazhab Syafi’i dibawa oleh pedagang India Islam ke Indonesia. Jadi teori Persia tidak melanjutkan hubungan mazhab Syafi’i Indonesia dengan pusatnya, yakni Mekkah dan Mesir.
Walaupun dalam ketiga teori ini tidak  terdapat titik temu, namun mempunyai persamaan pandangan yakni Islam sebagai Agama yang berkembang di Nusantara melalui jalan damai dan Islam tidak mengenal adanya misi sebagaimana yang dijalankan oleh kalangan Kristen dan Katolik.
B.     SEJARAH AWAL MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
Mengenai perdagangan dan para pedagang dalam mengislamkan indonesia, dimana pengaruh dan penyebaran islam efektif sekali. Hal ini disebabkan karena banyak orang yang begitu saja tertarik untuk mmemeluk agama islam sebelum mempelajari syariat agama secara terperinci.
Sejak awal abad masehi, sudah ada rute- rute pelayaran dan perjalanan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai wilayah di daratan Asia Tenggara. Di wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa konu merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian. Pedagang- pedagang muslim asal Arab, Persia dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke -7 M, ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah.
Pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia dan India juga ada yang sampai kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke 7 M (abad 1 hijriah), ketika Islam pertama kali perkembang di timur tenggah. Hubungan perdagangan ini menjadi hubungan penyebaran Islam di Indonesia.
Sejak abad pertama nusantara yang menghasilkan komuditi penghasil rempah-rempah dan banyak disukai di eropa(romawi) masa itu menyebabkan pedagang-pedagang arab singgah dipantai barat sumatra dan selat malaka yang menghubungkan imperium timur. Pedagang Arab sudah menjadi pengatur jalur perdagangan barat-timur.
a.       Islam Masuk ke Indonesia
Paling tidak ada dua pendapat mengenai masuknya islam di indonesia. Pertama pendapat lama, yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abat ke-13 M. Pendapat ini dikemukakan oleh para sarjana, antara lain N.H.Krom dan Van Den Berg. Kemudian pendat pertama mendapat sanggahan dan bantahan. Kedua pendapat baru yang menyatakan bahwa islam masuk ke indonesia pada abad ke-7 atau abad 1 hijriah pendapat baru ini dikemukakan oleh H. Agus Salim, M. Zainil Arifin Abbas, hamka, dll.
Menurut seminar masuknya Islam di Indonesia di medan tahun 1963, Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 M.
Seminar masuknya Islam di Indonesia tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut
1.      Menurut sumber-sumber yang kita ketahui, Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriah(abad ke-7) langsung dari Arab.
2.      Daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatra, dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama berada di Aceh.
3.      Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Indonesia aktif mengambil bagian.
4.      Mubaligh-mubaligh Islam yang pertama-tama itu sebagai penyiar Islam juga sebagai saudagar.
5.      Penyiaran Islam di Indonesia dilakukan denga cara damai.
6.      Kedatangan Islam di Indonesia, membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.[4]
Pendapat senada tentang masuknya Islam di Indonesia dikemukakan oleh Thomas W. Arnold dalam the preaching Islam, ia mengatakat, “mungkin Agama ini telah dibawa kemari oleh pedagang-pedagang Arab sejak abad-abad pertama hijriah, lama sebelum kita memiliki catatan  ssejarah dimana sebenarnya pengaruh mereka telah mulai terasa.
Menurut literatur kuno tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan arab Islam di pesisr pantai sumatra. Jadi hanya 9 tahun sejak rasulullah saw memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir pantai sumatra sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Akat tetapi, pada priode ini islam belum berkembang secara menyeluruh dan hanya beberapa wilayah yang sudah memeluk Islam, misalnya sebagian sumatra dan sebagian pantai utara jawa.
Adapun perkembangan selanjutnya, Islam berkembang secara lebih besar pada abad ke 12 M. Menurut para sejarawan Islam masuk ke Indonesia melalui beberapa jalur, sehingga dengan cepat dapat diterima oleh masyrakat Indonesia.
Jalur-jalur yang dilakukan oleh para penyebar Islam yang mula-mula di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Melalui Jalur Perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran Islamisasi adalah perdangan. Islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan. Mereka yang melalukan dakwah islam, sekaligus menjadi pedagang.
2.      Melalui jalur perkawinan
Dengan melalui jalur perkawinan, para menyebar Islam melakukan perkawinan dengan penduduk pribumi. Melalaui jalur perkawianan mereka telah menanamkan cikal bakal kader-kader Islam.
3.      Melaui jalur tasawuf
Para penyebar Islam juga terkenal sebagai pengajar-pengajar tasawuf. Oleh karena itu, penyebaran Islam kepada masyarakat Indonesia melalui jalur tasawuf atau mistik ini mudah diterima karena sesuai dengan alam pikiran masyarakat indonesia. Misalnya, menggunakan Ilmu-ilmu riyadhat dan kesaktian dalam proses penyebaran Islam kepada penduduk setempat.
4.      Melalui jalur pendidikan
Dalam Islamisasi di Indonesia ini, juga dilakukan melalui jalur pendidikan seperti pesantren, surau, masjid dan lain-lain yang dilakukan oleh guru-guru Agama, Kyai dan Ulama.
5.      Melalui jalur kesenian
Para penyebar Islam juga menggunakan kesenian dalam rangka penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra, dan berbagai kesenian lainnya.
6.      Melalui jalur politik
Para penyebar Islam juga menggunakan pendekatan politik dalam penyebaran Islam. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di indonesia. Demi kepentingan  politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan-kemenangan secara politik banyak menarik penduduk kerajaan yang bukan Islam memeluk Islam.
C.     AGAMA DAN KEKUATAN POLITIK MASA KOLONIALISME
Sebelum Islam datang, di Indonesia telah berkuasa kerajaan Hindu dan Budha. Pada abad ke-7, Islam telah menyebar luas di Indonesia, karena peranan budha masih memegang peranan dikerajaan Sriwiajaya, terutama dalam Politik dan sosial budaya.[5]
Masuknya islam didaerah di Indonesia tidak bersamaan, disamping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah ketika didatangi Islam juga berlainan. Datangnya oarang-orang Islam ke daerah-daerah yang baru disinggahi sama sekali belum memperhatikan dampak-dampak politik, karena awalnya mereka datang hanya untuk pelayan dan perdagangan.[6] Pada abad ke-13, kerajaan memasuki masa kemunduran, dalam hal ini pedagang-pedagang muslim memanfaatkan politiknya dengan mendukung daerah-daerah yang muncul  dan menyatakan diri sebagai kerajaan Islam.
Islam sebagai Agama yang memberikan corak kultur bangsa Indonesia dan sebagai kekuatan politik yang menguasai stuktur pemerintahan sebelum datangnya belanda dapat dilihat dari munculnya kkerajaan-kerajaan islam di nusantara ini, antara lain di sumatra, jawa, kalimatan dan sulawesi.


a.       Islam di Sumatra
Ada tiga kerajaan yang terkenal disumatra yang telah memosisikan Islam sebagai Agama dan sebagai kekuatan politik yang mewarnai corak budayanya, yaitu Perlak, Pasai, dan Aceh. Pada abad ke-8, sumatra terbagi dalam delapan kerajaan besar yang semuannya menyembah berhala, kecuali satu kerajaan yang berpegang pada Islam yaitu kerajaan perlak. Sistem pemerintahan yang diterapkan oleh kerajaan perlak pada dasarnya mengikuti sistem pemerintahan yang dilaksanakan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu kepala pemerintahan dipegang oleh sultan dengan dibantu oleh beberapa wazir. Kerajaan samudra Pasai, kerajaan ini ditaklukkan oleh penjajah portigis krisdani dengan memperakarsi negara Islam bersatu, yaitu menyatukan tenaga politik Islam di dalam sebuah negara yang kuat dan berdaulat yang diberi nama Aceh besar.
b.      Islam di Jawa
penyebar Islam pertama di Jawa adalah para Wali Songo, meraka tidak hanya berkuasa dalam bidang agama tetapi juga dalam bidang sosial dan politik. Dalam percaturan politik Islam mulai memosisikan diri ketika melemahnya kerajaan majapahit yang memberi peluang kepada penguasa Islam di pesisir untuk membagun pusat-pusat kekuasaan yang independen.
Di samping kekuatan politik Islam yang memberi konstribusi besar terhadap perkembangannya, Islam juga hidup dimasyarakat dapat memberi dorongan kepada penguasa non muslim untuk memelukknya. Dengan kata lain, para bupati telah menjadikan Agama Islam sebagai instrumen politik untuk memperkuat kedudukannya.
c.       Islam di Kalimatan, Maluku, dan Sulawesi
Pada awal abad ke 16, Islam masuk ke kalimantan selatan, yaitu di kerajaan daha yang beragama hindu. Berkat bantuan sultan demak raja daha dan rakyatnya masuk Islam sehingga berdirilah kerajaan Islam banjar, dengan raja pertamanya adalah pangeran samudera yang diberi gelar pangeran Suryanullah atau Suriansah, daerah-daerah sekitarnya mengakui kekuasaannya. Pada abad ke-10/11 di maluku sudah ramai oleh perniagaan rempah-rempah, terutama cengkeh dan pala yang dilakukan oleh pedagang Arab dan Persia.  Pada saat ini telah terhadi sentuhan pedagang Muslim dengan rakyat Maluku yang membentuk komunitas Islam.  Dengan besarnya gelombang perdagangan muslim atas ajakan datu maulana Husain, para raja di ternate menerima Islam sebagai Agama. Di Sulawesi, Raja Gowa-tallo memeluk Islam atas ajakan Datuk Rianang ai diberi gelar sultan Aluddin di talo raja l Malingkoan daeng nyonri kareng katangka pada tahun yag sama masuk Islam dengan gelar sultan Abdullah awal Islam.


DAFTAR PUSTAKA
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiah ll,(Jakarata: PT Raja Grafindo
Persada, 2006).
Supriadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam,(Bandung: CV Pustaka Setia).
Munir Amin, Samsul. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: AMZAH, 2009).
Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Melacak Akar-Akar
Sejarah, Soaial, Politik, dan Budaya Umat Islam, (Jakarata: PT. Raja Grafindo Persada, 2004).
Syukur, Fatah. Sejarah Peradaban Islam,(Semrang: PT. PUSTAKA RIZKI PUTRA, 2009).



[1] Ahamad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pengerakan Islam Di Indonesia, (Penerbit Mizan Khazanah Ilmu-Ilmu Islam), hlm. 76.
[2] Ibid., hlm. 83.
[3] Ibid., hlm. 84.
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peredaban Islam,(Jakarta: AMZAH), hlm. 303.
[5] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia), hlm. 139
[6] Ibid., hlm. 309

4 komentar: